Kisah Para Rasul
Kisah Para Rasul adalah tulisan Lukas yang kedua setelah Injil Lukas. Tulisan itu dialamatkan kepada pribadi yang sama yaitu Theofilus yang Mulia. Kisah Para Rasul merupakan lanjutan dari Injil Lukas. Di ayat yang pertama dari kitab tersebut, Lukas mengatakan bahwa di Injil Lukas ia menulis tentang segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus, tetapi, di kitab Kisah Para Rasul, Kristus menjanjikan turunnya Roh Kudus dan murid-murid-Nya menjadi saksi bagi Dia di Yerusalem, dan di seluruh Yudea, dan Samaria dan sampai ke ujung bumi (band. Kis 1:8).
Perkataan dan Janji Yesus kepada Murid-murid-Nya
Di ayat ke 4 pasal 1 dari Kisah Para Rasul disebutkan bahwa Yesus melarang
murid-murid-Nya untuk pergi meninggalkan Yerusalem. Meskipun mereka mungkin
sudah sangat antusias untuk memberitahukan kepada banyak orang bahwa Kristus
telah bangkit, Yesus justru menyuruh mereka tinggal di suatu tempat sampai Roh
Kudus turun ke atas mereka. Hal ini sangat konsisten dengan apa yang dinyatakan
oleh Yohanes Pembaptis di waktu-waktu sebelumnya. Yohanes Pembaptis pernah
berkata:”Aku membaptis kamu dengan air tetapi Dia yang datang setelah aku, akan
membaptis kamu dengan Roh Kudus.” Dan itu memang terjadi, setelah Yesus naik ke
Sorga, sepuluh hari setelahnya, Roh Kudus turun ke atas murid-murid-Nya. Mereka
berbicara dengan berbagai bahasa sehingga setiap orang yang hadir dari berbagai
tempat dapat mengerti dan heran terhadap rasul-rasul itu. Di Kisah Para Rasul
pasal 2 disebutkan bahwa orang-orang yang hadir dan menyaksikan rasul-rasul itu
datang ke Yerusalem sebenarnya adalah untuk merayakan hari raya Pentakosta
tetapi mereka justru mendapatkan pengalaman yang istimewa dan luar biasa.
Mereka adalah orang-orang yang berasal dari Partia, Media, Elam, Mesopotamia,
Yudea, Kapadokia, Pontus, Asia, Frigia, Pamfilia, Mesir, Libia, Kirene, Roma,
Kreta, Arab, dan lain-lain. Seketika setelah rasul Petrus selesai berkhotbah,
orang-orang itu merasa terharu, bertobat, dan dibaptis. Jumlah mereka ada
kira-kira tiga ribu jiwa. Hari raya Pentakosta pada saat itu menjadi hari raya
yang paling berkesan dan merupakan momen penting dalam hidup mereka yang hadir
di sana pada saat itu karena mereka mendapatkan pengampunan dosa dan karunia
Roh Kudus dan Jemaat Kristus yang pertama pun telah lahir. Apa yang terjadi
pada saat itu membuktikan kebenaran dari perkataan Yesus. Di Yohanes pasal 16
ayat 8, Yesus berkata:”…kalau Ia (Roh Kudus) datang, Ia akan menginsafkan dunia
akan dosa, kebenaran, dan penghakiman;…” Dan itulah yang terjadi pada hari raya
Pentakosta pada saat itu. Segera setelah Roh Kudus turun, orang-orang merasa
terharu, bertobat, sadar akan dosa-dosa mereka dan dibaptis. Hal ini
menunjukkan bahwa peran Roh Kudus sangat penting di dalam pemberitaan Injil –
di dalam menjadi saksi bagi Kristus. Itulah sebabnya mengapa Yesus berpesan
kepada murid-murid-Nya agar mereka jangan pergi dulu meninggalkan Yerusalem
sebelum menerima atau dibaptis dengan Roh Kudus. Meskipun mereka sudah
mempunyai bukti atau evidence tentang kebangkitan-Nya, itu tidaklah
cukup untuk dapat menjadi saksi-Nya. Dengan kata lain, tanpa kuasa dan kekuatan
dari Roh Kudus mereka tidak akan mampu mengerjakan pekerjaan-pekerjaan Tuhan.
Roh Kudus mutlak dibutuhkan dan sesungguhnya Dia-lah yang bekerja melalui
murid-murid-Nya (jemaat).
Di ayat ke 4 pasal 1 dari Kisah Para Rasul disebutkan bahwa Yesus melarang
murid-murid-Nya untuk pergi meninggalkan Yerusalem. Meskipun mereka mungkin
sudah sangat antusias untuk memberitahukan kepada banyak orang bahwa Kristus
telah bangkit, Yesus justru menyuruh mereka tinggal di suatu tempat sampai Roh
Kudus turun ke atas mereka. Hal ini sangat konsisten dengan apa yang dinyatakan
oleh Yohanes Pembaptis di waktu-waktu sebelumnya. Yohanes Pembaptis pernah
berkata:”Aku membaptis kamu dengan air tetapi Dia yang datang setelah aku, akan
membaptis kamu dengan Roh Kudus.” Dan itu memang terjadi, setelah Yesus naik ke
Sorga, sepuluh hari setelahnya, Roh Kudus turun ke atas murid-murid-Nya. Mereka
berbicara dengan berbagai bahasa sehingga setiap orang yang hadir dari berbagai
tempat dapat mengerti dan heran terhadap rasul-rasul itu. Di Kisah Para Rasul
pasal 2 disebutkan bahwa orang-orang yang hadir dan menyaksikan rasul-rasul itu
datang ke Yerusalem sebenarnya adalah untuk merayakan hari raya Pentakosta
tetapi mereka justru mendapatkan pengalaman yang istimewa dan luar biasa.
Mereka adalah orang-orang yang berasal dari Partia, Media, Elam, Mesopotamia,
Yudea, Kapadokia, Pontus, Asia, Frigia, Pamfilia, Mesir, Libia, Kirene, Roma,
Kreta, Arab, dan lain-lain. Seketika setelah rasul Petrus selesai berkhotbah,
orang-orang itu merasa terharu, bertobat, dan dibaptis. Jumlah mereka ada
kira-kira tiga ribu jiwa. Hari raya Pentakosta pada saat itu menjadi hari raya
yang paling berkesan dan merupakan momen penting dalam hidup mereka yang hadir
di sana pada saat itu karena mereka mendapatkan pengampunan dosa dan karunia
Roh Kudus dan Jemaat Kristus yang pertama pun telah lahir. Apa yang terjadi
pada saat itu membuktikan kebenaran dari perkataan Yesus. Di Yohanes pasal 16
ayat 8, Yesus berkata:”…kalau Ia (Roh Kudus) datang, Ia akan menginsafkan dunia
akan dosa, kebenaran, dan penghakiman;…” Dan itulah yang terjadi pada hari raya
Pentakosta pada saat itu. Segera setelah Roh Kudus turun, orang-orang merasa
terharu, bertobat, sadar akan dosa-dosa mereka dan dibaptis. Hal ini
menunjukkan bahwa peran Roh Kudus sangat penting di dalam pemberitaan Injil –
di dalam menjadi saksi bagi Kristus. Itulah sebabnya mengapa Yesus berp
Dua Rasul Besar (Petrus dan Paulus)
Di kitab Kisah Para Rasul dikisahkan tentang dua rasul besar yaitu rasul
Petrus dan rasul Paulus. Rasul Petrus dikisahkan dari Kisah Para Rasul pasal 1
sampai 12, sedangkan rasul Paulus dikisahkan dari Kisah Para Rasul pasal 13
sampai 28. Selain itu di sana juga tercatat tiga kali perjalanan misi Paulus
yaitu di pasal 13, pasal 15, dan pasal 18.Di kitab Galatia dikisahkan juga
tentang rasul Paulus yang menegur rasul Petrus karena meninggalkan meja
saudara-saudara non-Yahudi untuk bergabung dan makan bersama dengan
saudara-saudara dari bangsa Yahudi (band. Gal 2:11-14; Kis 15). Orang Yahudi
memang sejak dulu beranggapan bahwa orang non Yahudi adalah orang ‘kelas dua’
di mata Tuhan. Mereka bukan keturunan Abraham dan mereka tidak selamat. Orang
Yahudi menganggap haram makan semeja atau sehidangan dengan orang non-Yahudi
dan bahkan tidak boleh menginjakkan kaki dan masuk ke dalam rumah mereka.
Meskipun mereka sudah dibaptis dan bergabung dengan jemaat Yahudi, orang
non-Yahudi masih saja tetap dianggap ‘kelas dua’ atau lebih inferior.
Mereka diposisikan di sisi luar Bait Suci di dalam setiap acara atau ritual
keagamaan. Begitu jelasnya permasalahan ini sehingga penulis kitab Galatia juga
menyebutkan bahwa bukan saja Kefas (Petrus) yang melakukan hal seperti itu
tetapi juga Barnabas. Hal ini menunjukkan sesuatu yang harus dijawab dan
diselesaikan oleh rasul-rasul pada masa itu. Kisah Para Rasul pasal 15
mengatakan bahwa rasul-rasul mengadakan sidang atau rapat dan mereka menyadari
bahwa orang Yahudi maupun orang non-Yahudi adalah sama di mata Tuhan. Kisah
Para Rasul pasal 10 dan pasal 11 juga mengatakan hal yang sama kepada rasul
Petrus melalui peristiwa Kornelius, seorang perwira pasukan Italia. Kisah Para
Rasul juga menyebutkan dua jemaat besar yang ada pada masa itu yaitu jemaat
Yerusalem dan jemaat Antiokhia. Dua jemaat tersebut dapat disebut sebagai pusat
atau center dari murid-murid Yesus pada masa itu. Hal itu ditunjukkan oleh
sejumlah murid-murid dari Yerusalem yang datang mengunjungi jemaat Antiokhia,
begitu juga rasul Petrus, Paulus, dan Barnabas juga ada disebutkan berada di
sana. Dan di Antiokhia, murid-murid Yesus untuk pertama kalinya disebut Kristen
(band. Kis 11:26). Berdasarkan letak atau posisi wilayahnya, maka secara
otomatis, jemaat Yerusalem adalah jemaat yang terdiri dari sejumlah besar orang
Yahudi, sedangkan jemaat Antiokhia adalah jemaat yang terdiri dari sejumlah
besar orang non-Yahudi.Di dalam kitab Kisah Para Rasul juga dapat ditemukan
adanya konsistensi pengajaran atau doktrin yang berlaku atau diterapkan oleh
rasul-rasul dan murid-murid Yesus yang ada pada masa itu. Rasul Petrus berkata
di Kisah Para Rasul pasal 2 ayat 38:”Bertobatlah dan hendaklah kamu
masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk
pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.” Rasul Paulus
juga melakukan hal yang sama bahkan ia membaptis lagi orang-orang yang sudah
menerima baptisan Yohanes di dalam nama Yesus Kristus (band. Kis 19:5; Rom
6:3-4). Di samping itu juga ada terdapat sejumlah kisah yang mengatakan hal
yang sama yaitu Sida-sida dari Etiophia yang dibaptis oleh Filipus (Kis 8),
Saulus yang dibaptis oleh Ananias (Kis 9), dan Kornelius yang dibaptis oleh
Petrus (Kis 10).
Pertama, Tuhan Yesus selalu menepati setiap janji dan perkataan-Nya. Ia
berjanji bahwa Roh Kudus akan turun dan murid-murid-Nya akan menjadi saksi di
Yerusalem, Yudea, Samaria, dan sampai ke ujung bumi. Itu sungguh terjadi dan
terbukti benar. Kedua, Tuhan sangat berkuasa. Ia menginjili dunia dengan
orang-orang yang biasa dan sederhana dalam kurun waktu 30 tahun saja. Ketiga,
kekuatan Roh Kudus mutlak dibutuhkan. Strategi, teknik, metode penginjilan,
evidence, pengalaman, pengetahuan tentang Kristus dan kebangkitan-Nya, dan lain
sebagainya tidak dapat berdiri sendiri tanpa Tuhan – tanpa kuasa dan kekuatan
dari Roh Kudus-Nya. Kita tidak boleh mengandalkan kekuatan atau kemampuan diri
sendiri atau demi kepentingan diri sendiri. Jemaat dan penginjilan it’s all
about His power and glory. Ke-empat, Pekerjaan penebusan sudah selesai. Itu
dilakukan oleh Yesus Kristus di atas kayu salib. Pekerjaan Penginjilan belum
selesai. Kita (Jemaat) bersama dengan Dia masih terus bekerja melakukannya
hingga saat ini. Dia masih incharge sampai sekarang. Yesus berkata di
Matius pasal 28 ayat 18 sampai 20: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa
di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan
baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka
melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku
menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."
Pasal 9 surat 1 Korintus dibuka Rasul Paulus dengan
empat pertanyaan retoris, “Bukankah aku rasul (apostolos)? Bukankah aku orang
bebas? Bukankah aku telah melihat (horaō) Yesus, Tuhan kita? Bukankah kamu
adalah buah pekerjaanku dalam Tuhan?” (9:1). Tentu empat pertanyaan retorisnya
ini tidak muncul begitu saja, tanpa suatu sebab. Kalau kita baca pernyataannya
dalam 9:3, “Inilah pembelaanku (hē emē apologia) terhadap mereka yang
mengkritik (anakrinein) aku”, jelas kita harus menyimpulkan bahwa empat
pertanyaan retoris Rasul Paulus ini dimunculkannya sebagai suatu pembelaan
dirinya karena di dalam jemaat Korintus ada kalangan yang mengkritik
kerasulannya, kebebasannya sebagai seorang rasul (lihat 9:19-23) dan
dasar-dasar klaimnya bahwa dia adalah seorang rasul Yesus Kristus. Ayat 2
memuat suatu pernyataan Rasul Paulus sendiri yang menegaskan bahwa memang ada kalangan
yang mempersoalkan kerasulannya, tulisnya, “Sekalipun bagi orang lain (Yunani:
allos) aku bukanlah rasul, tetapi bagi kamu aku adalah rasul. Sebab hidupmu
dalam Tuhan adalah meterai kerasulanku.” Pada tiga ayat di atas (9:1-3), kita
dapat menemukan isi pembelaan Rasul Paulus yang menegaskan bahwa dia
sungguh-sungguh adalah seorang rasul Yesus Kristus. Dia memberi dua alasan
mengapa dia memandang dirinya seorang rasul Yesus Kristus. Pertama, karena dia
telah melihat Tuhan Yesus Kristus. Kata Yunani horaō (=“melihat”), bisa
mengacu baik kepada suatu penglihatan secara jasmaniah maupun kepada suatu
penglihatan secara rohaniah. Tentu, maksud Rasul Paulus bukanlah bahwa dia
telah melihat Yesus secara jasmaniah, sebab dia bukanlah seorang saksi mata
kehidupan Yesus. Penglihatannya lebih merupakan suatu pengalaman rohaniah yang
disebut penyataan (Yunani: apokalipsis; lihat Galatia 1:12 &
16). Kedua, karena dia telah berhasil mendirikan dan menghidupkan jemaat
Kristen di Korintus. Berdirinya jemaat ini adalah suatu bukti atau “meterai”
kerasulannya. Jemaat ini bukan hanya buah pekerjaannya, tetapi mereka juga
mengakui bahwa Paulus adalah seorang rasul (“… tetapi bagi kamu aku adalah
rasul”).
Ternyata,
sementara Rasul Paulus sedang menulis surat 2 Korintus, yang dikenal sebagai
sebuah “surat air mata” (2 Korintus 2:4), yang akan dikirimkannya ke jemaat
Korintus tak lama sesudah dia menulis surat 1 Korintus, para pengkritik Paulus
yang datang ke jemaat Korintus tetap tidak mengendurkan serangan mereka
kepadanya sehubungan dengan kemandirian finansial yang dipertahankan Paulus dan
Barnabas terhadap jemaat Kristen ini. Dalam 2 Korintus 11:7-11 sekali lagi
Paulus mempertahankan kemandirian finansialnya; katanya antara lain, “Dalam
segala hal aku menjaga diriku, supaya jangan menjadi beban bagi kamu” (ayat 9b;
lihat juga 12:13; 2:17). Para pengkritiknya menyatakan bahwa Paulus salah kalau
dia tidak mau menerima topangan finansial dari jemaat Korintus, sehingga secara
retoris Paulus bertanya, “Apakah aku berbuat salah jika aku merendahkan diri
untuk meninggikan kamu, karena aku memberitakan injil Allah kepada kamu dengan
cuma-Cuma” (11:7).
Paulus menulis surat yang sangat penting ini, karena
orang-orang Kristen di Galatia telah menyimpang dari pengertian yang benar
tentang iman Kristen (Gal 1:6). Mereka dalam bahaya besar karena ada
orang-orang yang memutarbalikkan kebenaran Injil tentang kemerdekaan Kristen,
dengan peraturan yang telah disahkan orang Yahudi. Diantara peraturan ini,
sunat menduduki tempat terpenting; dalam peraturan itu juga termasuk perhatian
akan penanggalandibingungkan oleh ke-Yahudian yang ingin membebani mereka
dengan kebiasaan sunat dan dengan menaati hukum-hukum Yahudi lainnya (Gal 3:1)
yang mengatakan bahwa hanya dengan jalan ini mereka dapat menikmati hubungan
istimewa dengan Allah. Paulus sangat yakin jika mereka bersandar pada hukum
Yahudi dalam hubungan mereka dengan Allah, berarti mereka menyangkal inti
Injil, yaitu bahwa hubungan Allah dengan manusia bergantung pada iman, bukan
pada perbuatan. Dalam surat ini Paulus menjelaskan hubungannya dengan gereja di
Yerusalem. Ia juga menerangkan tentang sifat kebebasan Kristen yang timbul
apabila orang Kristen beriman terhadap Kristus dan bukan mencoba untuk
menyenangkan Allah melalui ketaatan kepada hukum Taurat. Paulus mengingat
bagaimana dia pertama kali bertemu dengan jemaat Galatia dan memberitakan Injil
kepada mereka, ketika dia dalam keadaan lemah karena sakit. berarti kekuatan
kurang, lemah, cacat dari tubuh, kondisi yang kurang sehat, menanggung
penderitaan. Menurut orang Korintus keadaan fisik Paulus yang lemah, sebagai
akibat dari siksaan yang keji (2 Kor 10:10). Cerita-cerita tertua mengatakan
bahwa penderitaan Paulus itu berupa sakit kepala yang sangat berat dan sangat
melemahkan. Bahkan dari perikop ini ada dua petunjuk muncul . Kata-kata yang
sekarang diterjemahkan dengan ”kamu tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang
menjijikkan” sebenarnya secara harafiah berarti : “kamu tidak meludahi aku”.
Dalam dunia kuno ada suatu kebiasaan bahwa orang harus meludah bila bertemu
dengan orang yang berpenyakit ayan; maksudnya untuk menghindarkan diri dari roh
jahat yang diduga menghinggapi si penderita. Dengan pemakaian kata-kata
tersebut di atas, maka Paulus sebenarnya juga telah dianggap sebagai seorang
yang berpenyakit ayan. dan sekiranya mungkin orang-orang Galatia pasti telah
memberikan mata mereka kepada Paulus. Hal itu dapat terjadi karena ada dugaan
bahwa Paulus terlalu sering melewati Jalan Raya Damsyik, dimana ia pernah
mengalami peristiwa yang kena mengena dengan matanya. Paulus selalu mendapat
kesulitan karena matanya yang disilaukan oleh peristiwa itu. Karena itu
penglihatan Paulus hanya samar-samar dan selalu disertai rasa sakit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar