Sabtu, 29 Oktober 2011

tentang alkitab



TENTANG ALKITAB

Kisah Para Rasul

Kisah Para Rasul adalah tulisan Lukas yang kedua setelah Injil Lukas. Tulisan itu dialamatkan kepada pribadi yang sama yaitu Theofilus yang Mulia. Kisah Para Rasul merupakan lanjutan dari Injil Lukas. Di ayat yang pertama dari kitab tersebut, Lukas mengatakan bahwa di Injil Lukas ia menulis tentang segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus, tetapi, di kitab Kisah Para Rasul, Kristus menjanjikan turunnya Roh Kudus dan murid-murid-Nya menjadi saksi bagi Dia di Yerusalem, dan di seluruh Yudea, dan Samaria dan sampai ke ujung bumi (band. Kis 1:8).

 

Perkataan dan Janji Yesus kepada Murid-murid-Nya
 
Di ayat ke 4 pasal 1 dari Kisah Para Rasul disebutkan bahwa Yesus melarang murid-murid-Nya untuk pergi meninggalkan Yerusalem. Meskipun mereka mungkin sudah sangat antusias untuk memberitahukan kepada banyak orang bahwa Kristus telah bangkit, Yesus justru menyuruh mereka tinggal di suatu tempat sampai Roh Kudus turun ke atas mereka. Hal ini sangat konsisten dengan apa yang dinyatakan oleh Yohanes Pembaptis di waktu-waktu sebelumnya. Yohanes Pembaptis pernah berkata:”Aku membaptis kamu dengan air tetapi Dia yang datang setelah aku, akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.” Dan itu memang terjadi, setelah Yesus naik ke Sorga, sepuluh hari setelahnya, Roh Kudus turun ke atas murid-murid-Nya. Mereka berbicara dengan berbagai bahasa sehingga setiap orang yang hadir dari berbagai tempat dapat mengerti dan heran terhadap rasul-rasul itu. Di Kisah Para Rasul pasal 2 disebutkan bahwa orang-orang yang hadir dan menyaksikan rasul-rasul itu datang ke Yerusalem sebenarnya adalah untuk merayakan hari raya Pentakosta tetapi mereka justru mendapatkan pengalaman yang istimewa dan luar biasa. Mereka adalah orang-orang yang berasal dari Partia, Media, Elam, Mesopotamia, Yudea, Kapadokia, Pontus, Asia, Frigia, Pamfilia, Mesir, Libia, Kirene, Roma, Kreta, Arab, dan lain-lain. Seketika setelah rasul Petrus selesai berkhotbah, orang-orang itu merasa terharu, bertobat, dan dibaptis. Jumlah mereka ada kira-kira tiga ribu jiwa. Hari raya Pentakosta pada saat itu menjadi hari raya yang paling berkesan dan merupakan momen penting dalam hidup mereka yang hadir di sana pada saat itu karena mereka mendapatkan pengampunan dosa dan karunia Roh Kudus dan Jemaat Kristus yang pertama pun telah lahir. Apa yang terjadi pada saat itu membuktikan kebenaran dari perkataan Yesus. Di Yohanes pasal 16 ayat 8, Yesus berkata:”…kalau Ia (Roh Kudus) datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran, dan penghakiman;…” Dan itulah yang terjadi pada hari raya Pentakosta pada saat itu. Segera setelah Roh Kudus turun, orang-orang merasa terharu, bertobat, sadar akan dosa-dosa mereka dan dibaptis. Hal ini menunjukkan bahwa peran Roh Kudus sangat penting di dalam pemberitaan Injil – di dalam menjadi saksi bagi Kristus. Itulah sebabnya mengapa Yesus berpesan kepada murid-murid-Nya agar mereka jangan pergi dulu meninggalkan Yerusalem sebelum menerima atau dibaptis dengan Roh Kudus. Meskipun mereka sudah mempunyai bukti atau evidence tentang kebangkitan-Nya, itu tidaklah cukup untuk dapat menjadi saksi-Nya. Dengan kata lain, tanpa kuasa dan kekuatan dari Roh Kudus mereka tidak akan mampu mengerjakan pekerjaan-pekerjaan Tuhan. Roh Kudus mutlak dibutuhkan dan sesungguhnya Dia-lah yang bekerja melalui murid-murid-Nya (jemaat).
Di ayat ke 4 pasal 1 dari Kisah Para Rasul disebutkan bahwa Yesus melarang murid-murid-Nya untuk pergi meninggalkan Yerusalem. Meskipun mereka mungkin sudah sangat antusias untuk memberitahukan kepada banyak orang bahwa Kristus telah bangkit, Yesus justru menyuruh mereka tinggal di suatu tempat sampai Roh Kudus turun ke atas mereka. Hal ini sangat konsisten dengan apa yang dinyatakan oleh Yohanes Pembaptis di waktu-waktu sebelumnya. Yohanes Pembaptis pernah berkata:”Aku membaptis kamu dengan air tetapi Dia yang datang setelah aku, akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.” Dan itu memang terjadi, setelah Yesus naik ke Sorga, sepuluh hari setelahnya, Roh Kudus turun ke atas murid-murid-Nya. Mereka berbicara dengan berbagai bahasa sehingga setiap orang yang hadir dari berbagai tempat dapat mengerti dan heran terhadap rasul-rasul itu. Di Kisah Para Rasul pasal 2 disebutkan bahwa orang-orang yang hadir dan menyaksikan rasul-rasul itu datang ke Yerusalem sebenarnya adalah untuk merayakan hari raya Pentakosta tetapi mereka justru mendapatkan pengalaman yang istimewa dan luar biasa. Mereka adalah orang-orang yang berasal dari Partia, Media, Elam, Mesopotamia, Yudea, Kapadokia, Pontus, Asia, Frigia, Pamfilia, Mesir, Libia, Kirene, Roma, Kreta, Arab, dan lain-lain. Seketika setelah rasul Petrus selesai berkhotbah, orang-orang itu merasa terharu, bertobat, dan dibaptis. Jumlah mereka ada kira-kira tiga ribu jiwa. Hari raya Pentakosta pada saat itu menjadi hari raya yang paling berkesan dan merupakan momen penting dalam hidup mereka yang hadir di sana pada saat itu karena mereka mendapatkan pengampunan dosa dan karunia Roh Kudus dan Jemaat Kristus yang pertama pun telah lahir. Apa yang terjadi pada saat itu membuktikan kebenaran dari perkataan Yesus. Di Yohanes pasal 16 ayat 8, Yesus berkata:”…kalau Ia (Roh Kudus) datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran, dan penghakiman;…” Dan itulah yang terjadi pada hari raya Pentakosta pada saat itu. Segera setelah Roh Kudus turun, orang-orang merasa terharu, bertobat, sadar akan dosa-dosa mereka dan dibaptis. Hal ini menunjukkan bahwa peran Roh Kudus sangat penting di dalam pemberitaan Injil – di dalam menjadi saksi bagi Kristus. Itulah sebabnya mengapa Yesus berp
Dua Rasul Besar (Petrus dan Paulus)

Di kitab Kisah Para Rasul dikisahkan tentang dua rasul besar yaitu rasul Petrus dan rasul Paulus. Rasul Petrus dikisahkan dari Kisah Para Rasul pasal 1 sampai 12, sedangkan rasul Paulus dikisahkan dari Kisah Para Rasul pasal 13 sampai 28. Selain itu di sana juga tercatat tiga kali perjalanan misi Paulus yaitu di pasal 13, pasal 15, dan pasal 18.Di kitab Galatia dikisahkan juga tentang rasul Paulus yang menegur rasul Petrus karena meninggalkan meja saudara-saudara non-Yahudi untuk bergabung dan makan bersama dengan saudara-saudara dari bangsa Yahudi (band. Gal 2:11-14; Kis 15). Orang Yahudi memang sejak dulu beranggapan bahwa orang non Yahudi adalah orang ‘kelas dua’ di mata Tuhan. Mereka bukan keturunan Abraham dan mereka tidak selamat. Orang Yahudi menganggap haram makan semeja atau sehidangan dengan orang non-Yahudi dan bahkan tidak boleh menginjakkan kaki dan masuk ke dalam rumah mereka. Meskipun mereka sudah dibaptis dan bergabung dengan jemaat Yahudi, orang non-Yahudi masih saja tetap dianggap ‘kelas dua’ atau lebih inferior. Mereka diposisikan di sisi luar Bait Suci di dalam setiap acara atau ritual keagamaan. Begitu jelasnya permasalahan ini sehingga penulis kitab Galatia juga menyebutkan bahwa bukan saja Kefas (Petrus) yang melakukan hal seperti itu tetapi juga Barnabas. Hal ini menunjukkan sesuatu yang harus dijawab dan diselesaikan oleh rasul-rasul pada masa itu. Kisah Para Rasul pasal 15 mengatakan bahwa rasul-rasul mengadakan sidang atau rapat dan mereka menyadari bahwa orang Yahudi maupun orang non-Yahudi adalah sama di mata Tuhan. Kisah Para Rasul pasal 10 dan pasal 11 juga mengatakan hal yang sama kepada rasul Petrus melalui peristiwa Kornelius, seorang perwira pasukan Italia. Kisah Para Rasul juga menyebutkan dua jemaat besar yang ada pada masa itu yaitu jemaat Yerusalem dan jemaat Antiokhia. Dua jemaat tersebut dapat disebut sebagai pusat atau center dari murid-murid Yesus pada masa itu. Hal itu ditunjukkan oleh sejumlah murid-murid dari Yerusalem yang datang mengunjungi jemaat Antiokhia, begitu juga rasul Petrus, Paulus, dan Barnabas juga ada disebutkan berada di sana. Dan di Antiokhia, murid-murid Yesus untuk pertama kalinya disebut Kristen (band. Kis 11:26). Berdasarkan letak atau posisi wilayahnya, maka secara otomatis, jemaat Yerusalem adalah jemaat yang terdiri dari sejumlah besar orang Yahudi, sedangkan jemaat Antiokhia adalah jemaat yang terdiri dari sejumlah besar orang non-Yahudi.Di dalam kitab Kisah Para Rasul juga dapat ditemukan adanya konsistensi pengajaran atau doktrin yang berlaku atau diterapkan oleh rasul-rasul dan murid-murid Yesus yang ada pada masa itu. Rasul Petrus berkata di Kisah Para Rasul pasal 2 ayat 38:”Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.” Rasul Paulus juga melakukan hal yang sama bahkan ia membaptis lagi orang-orang yang sudah menerima baptisan Yohanes di dalam nama Yesus Kristus (band. Kis 19:5; Rom 6:3-4). Di samping itu juga ada terdapat sejumlah kisah yang mengatakan hal yang sama yaitu Sida-sida dari Etiophia yang dibaptis oleh Filipus (Kis 8), Saulus yang dibaptis oleh Ananias (Kis 9), dan Kornelius yang dibaptis oleh Petrus (Kis 10).

Pertama, Tuhan Yesus selalu menepati setiap janji dan perkataan-Nya. Ia berjanji bahwa Roh Kudus akan turun dan murid-murid-Nya akan menjadi saksi di Yerusalem, Yudea, Samaria, dan sampai ke ujung bumi. Itu sungguh terjadi dan terbukti benar. Kedua, Tuhan sangat berkuasa. Ia menginjili dunia dengan orang-orang yang biasa dan sederhana dalam kurun waktu 30 tahun saja. Ketiga, kekuatan Roh Kudus mutlak dibutuhkan. Strategi, teknik, metode penginjilan, evidence, pengalaman, pengetahuan tentang Kristus dan kebangkitan-Nya, dan lain sebagainya tidak dapat berdiri sendiri tanpa Tuhan – tanpa kuasa dan kekuatan dari Roh Kudus-Nya. Kita tidak boleh mengandalkan kekuatan atau kemampuan diri sendiri atau demi kepentingan diri sendiri. Jemaat dan penginjilan it’s all about His power and glory. Ke-empat, Pekerjaan penebusan sudah selesai. Itu dilakukan oleh Yesus Kristus di atas kayu salib. Pekerjaan Penginjilan belum selesai. Kita (Jemaat) bersama dengan Dia masih terus bekerja melakukannya hingga saat ini. Dia masih incharge sampai sekarang. Yesus berkata di Matius pasal 28 ayat 18 sampai 20: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

 
Pasal 9 surat 1 Korintus dibuka Rasul Paulus dengan empat pertanyaan retoris, “Bukankah aku rasul (apostolos)? Bukankah aku orang bebas? Bukankah aku telah melihat (horaō) Yesus, Tuhan kita? Bukankah kamu adalah buah pekerjaanku dalam Tuhan?” (9:1). Tentu empat pertanyaan retorisnya ini tidak muncul begitu saja, tanpa suatu sebab. Kalau kita baca pernyataannya dalam 9:3, “Inilah pembelaanku (hē emē apologia) terhadap mereka yang mengkritik (anakrinein) aku”, jelas kita harus menyimpulkan bahwa empat pertanyaan retoris Rasul Paulus ini dimunculkannya sebagai suatu pembelaan dirinya karena di dalam jemaat Korintus ada kalangan yang mengkritik kerasulannya, kebebasannya sebagai seorang rasul (lihat 9:19-23) dan dasar-dasar klaimnya bahwa dia adalah seorang rasul Yesus Kristus. Ayat 2 memuat suatu pernyataan Rasul Paulus sendiri yang menegaskan bahwa memang ada kalangan yang mempersoalkan kerasulannya, tulisnya, “Sekalipun bagi orang lain (Yunani: allos) aku bukanlah rasul, tetapi bagi kamu aku adalah rasul. Sebab hidupmu dalam Tuhan adalah meterai kerasulanku.” Pada tiga ayat di atas (9:1-3), kita dapat menemukan isi pembelaan Rasul Paulus yang menegaskan bahwa dia sungguh-sungguh adalah seorang rasul Yesus Kristus. Dia memberi dua alasan mengapa dia memandang dirinya seorang rasul Yesus Kristus. Pertama, karena dia telah melihat Tuhan Yesus Kristus. Kata Yunani horaō (=“melihat”), bisa mengacu baik kepada suatu penglihatan secara jasmaniah maupun kepada suatu penglihatan secara rohaniah. Tentu, maksud Rasul Paulus bukanlah bahwa dia telah melihat Yesus secara jasmaniah, sebab dia bukanlah seorang saksi mata kehidupan Yesus. Penglihatannya lebih merupakan suatu pengalaman rohaniah yang disebut penyataan (Yunani: apokalipsis; lihat Galatia 1:12 & 16). Kedua, karena dia telah berhasil mendirikan dan menghidupkan jemaat Kristen di Korintus. Berdirinya jemaat ini adalah suatu bukti atau “meterai” kerasulannya. Jemaat ini bukan hanya buah pekerjaannya, tetapi mereka juga mengakui bahwa Paulus adalah seorang rasul (“… tetapi bagi kamu aku adalah rasul”).
Ternyata, sementara Rasul Paulus sedang menulis surat 2 Korintus, yang dikenal sebagai sebuah “surat air mata” (2 Korintus 2:4), yang akan dikirimkannya ke jemaat Korintus tak lama sesudah dia menulis surat 1 Korintus, para pengkritik Paulus yang datang ke jemaat Korintus tetap tidak mengendurkan serangan mereka kepadanya sehubungan dengan kemandirian finansial yang dipertahankan Paulus dan Barnabas terhadap jemaat Kristen ini. Dalam 2 Korintus 11:7-11 sekali lagi Paulus mempertahankan kemandirian finansialnya; katanya antara lain, “Dalam segala hal aku menjaga diriku, supaya jangan menjadi beban bagi kamu” (ayat 9b; lihat juga 12:13; 2:17). Para pengkritiknya menyatakan bahwa Paulus salah kalau dia tidak mau menerima topangan finansial dari jemaat Korintus, sehingga secara retoris Paulus bertanya, “Apakah aku berbuat salah jika aku merendahkan diri untuk meninggikan kamu, karena aku memberitakan injil Allah kepada kamu dengan cuma-Cuma” (11:7).

Paulus menulis surat yang sangat penting ini, karena orang-orang Kristen di Galatia telah menyimpang dari pengertian yang benar tentang iman Kristen (Gal 1:6). Mereka dalam bahaya besar karena ada orang-orang yang memutarbalikkan kebenaran Injil tentang kemerdekaan Kristen, dengan peraturan yang telah disahkan orang Yahudi. Diantara peraturan ini, sunat menduduki tempat terpenting; dalam peraturan itu juga termasuk perhatian akan penanggalandibingungkan oleh ke-Yahudian yang ingin membebani mereka dengan kebiasaan sunat dan dengan menaati hukum-hukum Yahudi lainnya (Gal 3:1) yang mengatakan bahwa hanya dengan jalan ini mereka dapat menikmati hubungan istimewa dengan Allah. Paulus sangat yakin jika mereka bersandar pada hukum Yahudi dalam hubungan mereka dengan Allah, berarti mereka menyangkal inti Injil, yaitu bahwa hubungan Allah dengan manusia bergantung pada iman, bukan pada perbuatan. Dalam surat ini Paulus menjelaskan hubungannya dengan gereja di Yerusalem. Ia juga menerangkan tentang sifat kebebasan Kristen yang timbul apabila orang Kristen beriman terhadap Kristus dan bukan mencoba untuk menyenangkan Allah melalui ketaatan kepada hukum Taurat. Paulus mengingat bagaimana dia pertama kali bertemu dengan jemaat Galatia dan memberitakan Injil kepada mereka, ketika dia dalam keadaan lemah karena sakit. berarti kekuatan kurang, lemah, cacat dari tubuh, kondisi yang kurang sehat, menanggung penderitaan. Menurut orang Korintus keadaan fisik Paulus yang lemah, sebagai akibat dari siksaan yang keji (2 Kor 10:10). Cerita-cerita tertua mengatakan bahwa penderitaan Paulus itu berupa sakit kepala yang sangat berat dan sangat melemahkan. Bahkan dari perikop ini ada dua petunjuk muncul . Kata-kata yang sekarang diterjemahkan dengan ”kamu tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang menjijikkan” sebenarnya secara harafiah berarti : “kamu tidak meludahi aku”. Dalam dunia kuno ada suatu kebiasaan bahwa orang harus meludah bila bertemu dengan orang yang berpenyakit ayan; maksudnya untuk menghindarkan diri dari roh jahat yang diduga menghinggapi si penderita. Dengan pemakaian kata-kata tersebut di atas, maka Paulus sebenarnya juga telah dianggap sebagai seorang yang berpenyakit ayan. dan sekiranya mungkin orang-orang Galatia pasti telah memberikan mata mereka kepada Paulus. Hal itu dapat terjadi karena ada dugaan bahwa Paulus terlalu sering melewati Jalan Raya Damsyik, dimana ia pernah mengalami peristiwa yang kena mengena dengan matanya. Paulus selalu mendapat kesulitan karena matanya yang disilaukan oleh peristiwa itu. Karena itu penglihatan Paulus hanya samar-samar dan selalu disertai rasa sakit.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar